Wisata – Sebuah Kebutuhan Primer Untuk Masyarakat, FRIENDSHO.ID

partner friendhso.id
Sep15

Wisata – Sebuah Kebutuhan Primer Untuk Masyarakat, FRIENDSHO.ID

Blog no responses

Manusia bukanlah mesin, walaupun kemampuan diri manusia sanggup melampaui mesin apapun yang pernah diciptakan.

Manusia butuh istirahat dan tempat “lari” dari segala himpitan dan rutinitas yang ada dalam hidup mereka. Cara mereka “berlari” pun berbeda tergantung individunya,namun biasanya tidak jauh dari satu hal ini yaitu berwisata. Dan dewasa ini, kebutuhan akan berwisata benar benar melonjak hingga tak berlebihan jika ada yang memasukkan kebutuhan akan berwisata menjadi kebutuhan primer. Namun apakah layak jika kita menganggap berwisata adalah kebutuhan primer?

Yang belum disadari secara penuh oleh rakyat Indonesia kebanyakan adalah pentingnya kesehatan mental hingga dalam jenjang kehidupan apapun kesibukan begitu dipuja dan segala agenda diadakan begitu rapat. Semenjak sekolah dasar kita dihadapkan dengan hari hari penuh agenda hingga hari libur dirasa hanya sanggup digunakan untuk beristirahat setelah badan benar benar tidak diberi waktu yang cukup untuk berfungsi secara optimal. Efek negatif dari ini tentu tidak akan dirasakan dalam jangka waktu yang singkat, namun dalam jangka panjang efek negatif mulai muncul dari ketidakstabilan emosi, menurunnya produktifitas kerja hingga kesehatan yang memburuk. Mengatasi hal ini tentu banyak cara,dan tentu salah satunya berwisata. Berwisata itu penting karena sanggup memberikan penyegaran dalam pikiran dan juga memberi relaksasi terhadap tubuh juga jiwa. Segarnya pikiran dan jiwa sanggup memberi efek positif yang amat besar untuk manusia. Salah satu efek jelas adalahj meningkatnya produktivitas yang berimbas terhadap segala hal yang manusia jalani. Maka dari itu wisata adalah hal penting yang harus manusia lakukan hingga memasukkanya ke dalam kebutuhan primer pun pantas pantas saja.

Namun segala solusi dan saran pasti menemui kendala, dan dalam hal berwisata pun ada kendalanya, misalnya adalah jam kerja. Jam kerja untuk orang Indonesia rata rata adalah 12-14 jam, salah satu yang terbanyak di dunia. Walau hari kerja rata rata berakhir di hari jumat, namun jam kerja yang terlampau tinggi menyita banyak tenaga hingga hari libur bisa dipastikan hanya digunakan untuk istirahat hingga jika dipergunakan untuk penyegaran pun hanya digunakan untuk sekedar nongkrong atau menghabiskan diri di ruang kota yang lain macam kafe dan tempat makan. Tidak salah, namun pada dasarnya itu hanyalah berpindah tempat dan tidak jauh berbeda dari rutinitas yang biasa dilakukan. Jerman sebagai negara yang diakui produktivitas individunya hanya mengalokasikan jam kerja 6-8 jam. Total jam yang separuh dari Indonesia itu menegasikan ungkapan bahwa makin lama bekerja makin banyak hasil. Alokasi jam kerja yang sedikit itu dimaksudkan agar para individunya sanggup beristirahat dan melakukan kerjanya dalam keadaan yang prima dan juga memberi waktu agar kesehatan mental para pekerja tidak terganggu. Jepang memberi banyak hari libur dan juga himbauan untuk berwisata. Walaupun terkenal sebagai negara dengan penduduk yang gila kerja,namun bukan berarti Jepang tidak paham pentingnya berwisata. Dengan alasan yang sama dengan Jerman, Jepang menanamkan paham berwisata itu penting untuk kesehatan pikiran dan meningkatkan produktivitas.

Manfaat berwisata selain untuk keuntungan personal, juga berimbas ke sektor yang lebih besar. Banyak lapangan pekerjaan baru terbentuk semenjak viralnya tempat tujuan wisata beberapa tahun belakangan. Selain menciptakan banyak lapangan pekerjaan, pendapatan daerah meningkat dan bisa meningkatkan taraf hidup masyarakat. Yogyakarta dalam beberapa tahun belakangan membuka banyak homestay dan meningkatkan pendapatan daerah maupun personal karena naiknya kunjungan ke daerah wisata di Yogyakarta. Salah satu objek pariwisata jogja !

Indonesia, negeri dengan 13 ribu pulau dan keanekaragaman suku, budaya dan bahasa tentu tidak berlebihan jika disebut sebagai surga pariwisata. Dengan sedikit pengenalan akan pentingnya berwisata, Indonesia tidak harus menunggu dan merayu wisatawan mancanegara untuk emngisi kantong negara dari pariwisata, namun warga negara ini sendiri sanggup memberi sumbangsih yang besar atas pariwisata. Negara yang mulai penuh sesak karena dikejar oleh percepatan pembangunan dan perkembangan dunia ini harus mulai dikenalkan akan pentingnya menjaga kesehatan mental dengan pentingnya berwisata. Karena sederhana saja, negara ini benar benar punya banyak tempat indah untuk dipandang mata dan hati.

 

Leave a Reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>